jump to navigation

Ponari dan Fenomena Kemunculan Dukun Cilik February 27, 2009

Posted by adimasmw in Misc.
trackback

Dua minggu yang lalu rakyat Indonesia dikejutkan dengan kematian 4 orang warga yang sedang mengantri untuk melakukan pengobatan ke seorang dukun di daerah jombang, yang membuat lebih heboh lagi ternyata dukun yang mereka datangi adalah seorang anak kecil yang masih duduk di kelas 3 SD. Ponari nama anak itu yang sekarang terkenal dengan nama dukun cilik Ponari. Dengan batu ajaibnya yang katanya didapat sewaktu dia tersambar petir, ponari mengobati pasiennya. Setiap harinya tidak kurang sepuluh ribu orang antri untuk mengobati penyakitnya kepada sang dukun cilik, pengunjungnya tidak hanya dari daerah jombang, orang dari luar pulau jawa pun ada yang sengaja datang ke tempat “praktik” Ponari.

Membludaknya pasien yang mengunjungi rumah Ponari membuat pekarangan rumahnya yang tidak terlalu luas dipenuhi lautan manusia, ditambah lagi dengan tidak tertibnya para pengunjung membuat suasana menjadi tambah kacau. Puncaknya 4 orang meninggal akibat terdorong dan terinjak-injak oleh pengunjung yang lain, situasi yang semakin tidak kondusif memaksa pihak kepolisian dibantu oleh aparat TNI turun tangan mengamankan praktik perdukunan ini. Pihak kepolisian sempat menutup praktik ini selama beberapa hari, akan tetapi walaupun ditutup pasien yang berkunjug tetap tidak berkurang. Karena banyaknya pasien yang datang dukun cilik itu akhirnya kelelahan juga malah sempat dibawa ke puskesmas oleh orang tuanya, suatu hal yang ironis, ketika puluhan ribu orang datang ke pada dirinya untuk berobat, eh ketika sakit sang dukun malah berobat ke puskesmas, tampaknya dalam hal ini dukun cilik dan keluarganya lebih rasional dibanding pasien yang mengunjungi rumahnya.

Dropnya kondisi Ponari membuat praktiknya kembali tutup untuka beberapa hari, dan hal ini juga yang membuat KPA (komisi Perlindungan Anak) turun tangan, karena mereka melihat adanya eksploitasi anak oleh orang tuanya. Kak seto yang memang biasanya menangani masalah anak turun tangan, dia mengunjungi ponari di rumahnya dan berbincang dengannya. Melihat kondisi dan situasi yang tidak kondusif ini pihak kepolisian berencana untuk menutup praktik dukun ini selamanya, selama manajemennya tidak baik. Akan tetapi banyak pihak yang meminta polisi membatalkan keingginan itu, bahkan sampai bupati jombang sendiri pun meminta ponari membuka kembali prakteknya, mungkin sang bupati melihat ini sebagai pemasukan yang menggiurkan bagi daerahnya, karena konon selama praktik kurang lebih satu bulan, dukun cilik ponari sudah mengantongi uang lebih dari 1 milyar, ada yang mengatakan pendapatannya Rp.60 juta rupiah perhari. Akibat praktiknya yang setiap hari ini juga membuat pendidikan ddukun cilik terlantar. Ponari sudah hampir 1 bulan tidak masuk sekolah, sampai-sampai pihak sekolah meng-ultimatum kepada orang tua ponari untuk segera memeasukannya kembali ke sekolah.

Dengan hadirnya beberapa masalah itu membuat keluarga Ponari berfikir keras, bagaimana agar praktik ponari bisa tetap berjalan namun haknya untuk bermain dan sekolah tidak terganggu. Akhirnya diambil jalan tengah, pasien yang bisa dilayani setiap harinya “hanya” 5000 orang dengan menggunakan sistem kupon. Dengan sistem seperti itu akhirnya ponari bisa masuk kembali ke sekolah, akan tetapi mungkin akrena terlalu lama tidak masuk sekolah, ketika pelajaran berlangsung ponari malah lebih senang bermain dengan handphone canggihnya bersama teman sebangkunya, sambil merekam gurunya yang sedang mengajarnya, mungkin ponari berfikir “saya rekam bu guru ngajar aja, jadi nanti kalo lagi “nganclumkeun” batu saya bisa buka lagi rekaman di sekolah tadi”, mungkin begitu pikirnya.

Tapi dengan kebijakan barunya yang hanya membatasi 5000 pasin setiap haarinya membuat Ponari harus menanggung resiko ditinggal beberapa pasiennya yang tidak sempat terlayani, karena 20 km dari rumah Ponari ternyata muncul juga seorang dukun cilik bernama dewi yang berumur 14 tahun melakukan pengobatan yang serupa tapi tak sama. Pasiennya banyak walaupun belum sebanyak ponari, tapi sudah mencapai ribuan perharinya, banyak dari pasien yang tidak kebagian tiket di Ponar lari ke tempat dukun dewi, ada juga pasien yang tidak sembuh di ponar, kembali mencoba peruntungan di tempatnya dewi ini.

Belum lama berselang setelah muncul pemberitaaan tentang dukun cilik perempuan saingan ponari ini, ada juga kabar yang memberitahukan ada juga dukun cilik yang muncul dengan pengobatan yang serupa dengan ponari, yaitu dengan mealalui perantara air yang sudah dicelup oleh batu ajaib. Bedanya kalo ponari mendapatkan batu “ajaibnya” ketika tersambar petir, anak dari madura ini yang menurut penuturan orang tuanya mendapat batu “ajaib” dari mimpi. Katanya ketika tidur anak ini mendapat mimpi diberi uang oleh seorang laki-laki bersorban, dan ketika bangan anak itu sudah memegang sebuah batu lonjong berwarna hitam.

Kemunculan dukun-dukun cilik yang katanya mampu mengobati memang menjadi fenomena. Berbagai media cetak maupun elektronik menjadikan berita ini sebagai headline di medianya masing-masing, terutama mengenai berita mengenai ponari. Bagaimana tidak menjadi fenomena, seorang ponari mampu mendatangkan puluhan ribu orang hari ke halaman rumahnya, hampir mirip kampnye ketika pilkada maupun pemilu. Yang tidak kalah fenomenal, seperti yang telah disebutkan diatas, praktik ponari dalam waktu 1 bulan, ponari mampu menghasilkan uang sekitar 1,8 milyar atau sekitar 60 juta per hari. Keluarga Ponari yang dahulu termasuk dalam kategori keluarga miskin tiba-tiba menjadi OKB (Orang Kaya Baru), yang dulu mainan ponari adalah kelereng kini handphone adalah gadget yang tidak bisa dilepaskan dari tangannya.

Kesuksesan Ponari yang sedemikian singkat itu mungkin menarik minat beberapa orang tua untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang tua ponari, yaitu mengeksploitasi anaknya dengan dalih pengo

batan mealalui “batu ajaib” untuk mendapatkan untung yang besar. Hampir semua dukun-dukun cilik yang mencul setelah Ponari menjual “ pongobatan menggunakan batu ajaib” sebagai barang andalannya. Secara ilmiah “pengobatan” alternatif masih sangat memerlukan kajian lebih lanjut, diperlukan penelitian mengenai kandungan air yang telah dicelup oleh tangan ponari dan batunya, apakah memang ada zat/komponen yang mampu menyembuhkan, atau “kesembuhan-kesembuhan” beberapa pasien ponari hanya sebatas sugesti (semoga saja ada peneliti yang iseng ingin meneliti air “Ponari sweat”). Hasil penelitian itu mungkin saja masih bisa menyadarkan beberapa orang yang pikirannya masih “waras”, la wong Ponari aja pas sakit berobatnya ke puskesmas, bukannya minum air “Ponari Sweat”!!!!!!!.

Banyaknya pasien yang berobat ke Ponari dan dukun-dukun cilik lainnya, mesti dijadikan introspeksi oleh beberapa pihak. Apakah karena kualitas pengobatan dan perawatan yang dilakukan oleh tenaga medis di daerah jombang belum maksimal, apakah ketika melakukan pengobatan dan perawatan hanya profit oriented bukannya pasient oriented sehing

ga mengurangi kualitas pengobatannya. Pemda setempat juga harus mengukur ulang keberhasilan pendidikan di d

aerahnya, ketika makin tinggi tingkat pendidikan dan makin mudah masyarakat mendapatkn informasi, maka akan makin tinggi pula tingkat rasionalitas masyarakatnya, walaupun ada juga orang yang berpendidikan masih mempercayai hal-hal mistis tapi secara kuantitas sedikit. Para kyai dan ustad yang ada di jombang juga mempunyai PR yang tidak mudah dalam fenomena ini, walapun beberapa orang mengatakan bahwa hanya ikhtiar ketika melakukan pengibatan ini dan meyakini bahwa hanya Allah lah yang mengobati segala penyakit, tetap saja saya melihat (mudah-mudahan tidak su’udzan) hanya sekedar lip service saja, JaIm (jaga imej) waktu disorot kamera, g mau terkesan seperti orang yang g rasional. Masyarakat yang datang sudah seperti mengkultuskan Batu Ponari, yang bisa menyebabkan syirik, yang dalam Al-qur’an disebutkan bahwa dosa yang tidak diampuni oleh Allah Swt adalah syirik, (semoga orang yang meninggal ketika berdesakan memperebutkan “tuah” air Ponari Sweat tidak termasuk dalam golongan ini, naudzubillahi min dzalik). Para kyai dan ustadz mempunyai tugas yang berat untuk mengingatkan masyarakat yang datang untuk air Ponari Sweat agar menggunakan ikhtiar yang lebih rasional dan sesuai syar’i.

Terlepas dari semua itu, perlu kerjasama dari beberapa pihak untuk menyelesaikan polemik yang berkembang ini, dicari solusi yang bisa membuat semua pihak untung, dan yang lebih penting jangan sampai keluar dari koridor syar’i. wallhua’lam bisshawab.

Comments»

1. Jason - February 27, 2009

ha.ha.ha….PONARI SWEAT nya itu lho. Ada ada saja mas Fatih

2. Kampanye damai Pemilu Indonesia 2009 - March 3, 2009

Very nice information. Thanks for share………

*numpang comment yeee*

3. Ahmad rifai - May 8, 2010

Seharusnya PONARI SEWOT Mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: